MISS PERFECT DAN SIMBOK

Menjadi guru bukanlah pilihan pertama saya, tetapi sekarang menjadi bagian dari nafas hidup saya. Rasa minder kuliah di Universitas keguruan sementara teman-teman SMA saya kuliah di UGM, IPB, ITB, dan UNDIP. Akhirnya saya bisa menyelesaikan pendidikan dengan baik di bulan Maret 2003 kemudian wisuda bulan Mei 2003. Saya aktif memasukkan lamaran pekerjaan di sekolah-sekolah, di bank, dan dikantor lain walaupun tidak ada lowongan pekerjaan yang ditawarkan, dan itu saya lakukan disela-sela aktivitas mengajar aerobik karena saya juga sebagai seorang instruktur aerobik. Bulan Juli tahun 2003 saya resmi mengajar di SMK BOPKRI 1 Yogyakarta, sekolah swasta di dekat bunderan UGM dengan kondisi fisik lingkungan sekolah yang kecil. Usia saya dengan murid saya hanya terpaut empat (4) tahun, jadi menurut saya waktu itu saya masih belia sekali sebagai seorang guru. Rasa kebanggaan saya sebagai seorang guru tumbuh di sekolah ini. Sekolah swasta dimana murid yang masuk di sekolah ini tentu saja adalah murid yang tidak diterima di sekolah negeri dengan kata lain secara akademik anak murid saya memiliki nilai yang relatif kurang. Miris hati saya saat mendengar orang lain mengatakan bahwa anak swasta inputnya saja jelek jadi wajar kalau outputnya juga jelek. Hal negatif yang saya dengar ternyata atas izin Tuhan membawa hal yang positif bagi hidup saya dimana justru rasa kebanggaan sebagai guru muncul dari situ, bahwa saya berkeyakinan input yang jelek setelah diproses, didekati, diajar, dididik dengan baik, hasilnya tidak akan sia-sia. Motivasi dalam diri saya tumbuh bagaimana saya membuktikan bahwa “proses” tidak bisa diabaikan untuk membentuk sebuah hasil. Rasa kebanggan menjadi guru dan motivasi yang besar untuk membuktikan tanpa dengan kata-kata itu yang kemudian mengawali perjalanan hidup dan totalitas saya sebagai seorang guru.

 

Masih muda, rambut diluruskan dengan panjang setengah punggung, kadang dikucir dan kadang dijepit, sepatu high heels berganti-ganti warna dan model, rok sebawah lutut, aduhai dan semampai saya waktu itu, hehehe..Waktu mengantarkan siswa kunjungan ke PT Cola-Cola, Semarang, saya turun dari tempat pengolahan limbah, dan merasa seperti ada yang mengamati saya, tapi saya abaikan perasaan itu, setelah sampai bawah ternyata ada murid yang mendekati saya, dia bilang, “Ibu, kenapa Ibu mau jadi guru”, Ibu seharusnya bekerja di perusahaan seperti ini jadi manager, hehehe tertawalah saya dan saya jawab, bu Rakhma lebih senang menjadi guru yang akan menghasilkan manager, direktur, dan presiden sekalipun, jadi lebih hebat siapa? (sambil senyum kepada murid saya). Mengikuti seminar, pelatihan, lokakarya, workshop dan kegiatan lainnya bersama teman-teman guru se- Daerah Istimewa Yogyakarta adalah momen pengembangan profesi yang sering saya ikuti. Diacara tersebut teman-teman guru mudah mengingat bu Rakhma, SMK BOPKRI 1 karena saya adalah satu-satunya peserta yang rambutnya dikucir (pembaca bisa membayangkan tentu saja, maaf sambil saya becanda). Rasa bangga menjadi guru benar-benar memenuhi hati saya, bagaimana mendedikasikan hidup ini untuk dunia pendidikan, dan itu mempengaruhi performa saya secara keseluruhan bagaimana saya harus pandai membawa diri saya karena diri saya bukan hanya diri saya semata melainkan mewakili profesi saya.

 

Menjadi wali kelas sebelas (XI)  dan mengikuti siswa untuk akhirnya menjadi wali kelasnya di kelas dua belas (XII) itu kepercayaan dari sekolah untuk saya mendampingi anak-anak di kelas binaan saya. Kepercayaan, kasih sayang, pendampingan, ketulusan itu tidak bisa dideskripsikan dengan kalimat secara sempurna tetapi bisa anak-anak rasakan dan akan mereka simpan dalam hati sepanjang hayat mereka. Anak-anak yang input nilainya kurang ternyata mampu menyumbangkan prestasi terbaiknya untuk sekolah, juara III Lomba Keterampilan Siswa (LKS)  bahasa Indonesia, Juara III LKS bidang Akuntansi kategori sekolah swasta, juara Harapan I Accounting Smart Competition yang diadakan oleh Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta  sekaligus memboyong piala sebagai tim favorit, dari sini saya menjawab tanpa kata-kata, membuktikan dengan fakta, bahwa proses tidak bisa diabaikan untuk menghasilkan output pendidikan. Siswa berkebutuhan khusus memang ada, sampai saya harus menjemputnya di tempat kos saat Ujian Sekolah (US) dilaksanakan. Hal tersebut saya lakukan untuk menyelesaikan permasalahan sesaat dimana siswa tidak hadir dan saya tahu persis mengenai siswa tersebut, sehingga saya putuskan untuk menjemputnya. Siswa akhirnya mengikuti ujian walaupaun terlambat dan dapat lulus. Akar permasalahan belum terselesaikan, sehingga pendampingan tetap saya lakukan pada waktu itu dengan harapan bisa membantunya menemukan jati dirinya, membantunya menemukan solusi atas permasalahan pribadi yang dihadapinya.

 

Ucapan selamat ulang tahun sampai dengan tahun ini masih saya terima dari murid saya tahun 2005. Dulu mereka mengucapkan atas nama kelas, “Selamat ulang tahun untuk miss perfect”, dan tertawalah saya karena ternyata saya diberi julukan oleh anak-anak, sampai dengan saat ini jika mereka mengirimkan pesan baik sms maupun bbm, saya gantian yang becanda, asiiik, anak-anak masih ingat miss perfect, dan gantian mereka yang tertawa. Saya terkadang lupa dan mengatakan anak-anak, padahal mereka sudah selesai kuliah dan bahkan sudah mengambil pendidikan profesi, sudah memiliki anak pula, kalau akan bilang “cape dech”, boleh, hehe.

 

Tahun 2007 saya pindah mengajar di SMK Negeri 1 Yogyakarta. Bagi saya mengajar di sekolah swasta dan sekolah negeri, semua memerlukan totalitas, ketulusan, dan semua ada seninya. Ada perbedaan memang antara siswa di sekolah negeri dan sekolah swasta, sehingga harus ada perbedaan dalam perlakuan, tetapi bukan untuk dibeda-bedakan.

 

Ada hal-hal yang mungkin belum terpikirkan oleh teman-teman saya sesama pendidik dan pengajar, atau sudah terpikirkan tetapi belum maksimal dilaksanakan, atau sudah dilaksanakan tetapi belum sempat dibagi dalam bentuk tulisan, maka izinkan saya membaginya saat ini. Menjadi wali kelas adalah kesempatan paling baik untuk menanamkan hal baik dan kesempatan paling baik untuk membiasakan hal baik disekolah. Mengajar adalah tanggung jawab kita dimana kita mendampingi peserta didik untuk menemukan hal baru yang nantinya dapat bermanfaat untuk hidupnya dan mendidik juga merupakan tanggung jawab moral kita sebagai seorang guru. Anak-anak terbiasa menghargai hasil daripada proses. Nilai yang bagus adalah orientasi mereka. Sebagai guru saya harus memulai dan tidak bisa lagi menunggu, karena bangsa Indonesia dimasa yang akan datang, bergantung dari kami mempersiapkannya sekarang. Saya menanamkan kejujuran kepada peserta didik saya dalam setiap ulangan atau evaluasi, nilai jelek tetapi dikerjakan dengan jujur, jauh lebih saya hargai. Kejujuran adalah suatu bentuk rasa mempercayai diri sendiri dan tidak merugikan orang lain. Pembiasaan untuk satu sikap ini tidak mudah. Setiap menjumpai ketidakjujuran, harus diberikan perlakuan, dan itu harus kontinyu dilakukan serta konsisten. Pertama yang saya lakukan adalah membuat kontrak belajar dengan siswa. Ada beberapa kontrak belajar saya kepada siswa tetapi saya ambil satu saja mengenai kejujuran. Diawal mengajar kita sampaikan aturan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dimana siswa harus mengerjakan ulangan atau evaluasi secara jujur dan mandiri, apabila hal tersebut dilanggar maka siswa berhak untuk tidak lagi dipercaya oleh guru. Alasan harus disampaikan, dimana hal yang dilakukan dengan jujur akan membawa keberkahan, suatu bentuk mempercayai diri sendiri, dan tidak merugikan teman lain yang benar-benar belajar. Siswa saya tidak ada yang membawa contekan atau membuka buku, tetapi saya baru bisa mengamati sepanjang mata pelajaran yang saya ampu. Hal terkait dengan ketidakjujuran yang saya jumpai adalah bekerjasama dengan teman saat ulangan dalam bentuk menyamakan jawaban. Tentu saja hal ini harus diberikan perlakauan secara individu dan kasusnya dibawa ke kelas untuk pembelajaran bagi semua, tetapi pendampingan individu kepada siswa yang “melakukan” harus saya tempuh. Keberhasilan penanaman sikap ini bergantung pada konsistensi pemberlakuan aturan, kontinuitas pendampingan, pemberian penghargaan terhadap keberhasilan pelaksaan sikap, dan teguran yang jelas bagi pelanggaran yang dilakukan. Siswa saya saat ini akan mengerjakan ulangan dengan tenang, mandiri, walaupun saya tidak menungguinya. Saya senang bisa berbuat untuk Indonesia melalui pendidikan. Simbok adalah panggilan anak-anak kelas untuk saya. Ada anak teater di kelas yang sering dipanggil “mbok Wongso”, saya juga ingin, hehehe, jadilah saya bilang “Panggil simbok saja”.

 

Murid zaman dulu hormat sekali dengan gurunya, berjabat tangan, membawakan sepedanya, membawakan tasnya, kalau murid zaman sekarang apa, mereka tidak sopan, pernyataan itu pernah saya dengar, tetapi saya tidak mengalaminya, anak-anak menyapa saya setiap kali berpapasan, menjabat tangan dan cium tangan, bahkan saat melihat saya kerepotan (karena tas tentengan saya banyak sampai-sampai saya menyebutnya kronjot), anak membawakan sampai di parkiran. Sederhana, pertama saya menyapa mereka terlebih dahulu dan seterusnya anak-anak yang menyapa saya; saat berpapasan ada kontak mata dengan mereka (tidak cuek), mereka pun tidak akan cuek dengan kita; saat bertemu, kita salami mereka dan seterusnya mereka akan menghampiri kita untuk bersalaman, kita berusaha menghafal nama mereka, dan mereka pun tidak akan memanggil kita dengan “bu Akuntansi”. Kalau ada pernyataan anak zaman sekarang berbeda dengan anak zaman dulu, pernahkah ada pertanyaan, “Apa beda guru zaman dulu dengan guru zaman sekarang?”. Ini adalah perenungan bagi diri saya pribadi, untuk senantiasa memperbaiki diri dari waktu kewaktu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s