Sekolah Menengah Kejuruan, antara Potensi dan Realita

SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK),

ANTARA POTENSI DAN REALITA

 

Oleh: Rakhmayanti

Guru SMK Negeri 1 Yogyakarta

 

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan bagian dari pendidikan menengah tingkat atas di Indonesia. Wajib belajar sembilan tahun, sebuah program pemerintah yang  kini telah mengalami pergeseran. Perubahan pola pandang dan kesadaran masyarakat terhadap pendidikan generasi muda, peningkatan kehidupan sosial-ekonomi sebagian besar masyarakat serta jejaring (networking) yang bagus antara pihak sekolah dengan yayasan-yayasan atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli terhadap pendidikan merupakan faktor yang turut andil menjadikan pendidikan menengah tingkat atas sebagai level minimal yang harus ditempuh oleh generasi muda.

 

Pendidikan formal merupakan salah satu sarana pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam upaya peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan teknologi. Aspek sosial dan psikologis turut pula tersentuh bersamaan dengan bergulirnya proses pendidikan formal yaitu kemampuan berorganisasi, kemampuan sosial-emosional, kematangan berpikir, serta  kemampuan berlogika. Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas adalah output yang diharapkan dari serangkaian proses pendidikan sehingga SDM tersebut mampu bersaing sebagai individu dan sebagai suatu kesatuan (kolektif) mampu mensejajarkan bangsa ini dengan bangsa-bangsa lain ditengah persaingan global.

 

Sekolah Menengah Umum (SMU) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), bagian dari pendidikan menengah tingkat atas yang masing-masing memiliki spesifikasi berbeda terutama dalam hal kurikulum. Mata pelajaran di SMU menuntut pemahaman lebih lanjut sementara mata diklat di SMK telah disusun sedemikian rupa sehingga diharapkan output pendidikan lebih siap untuk memasuki dunia kerja. Dunia pendidikan seperti halnya dunia bisnis menuntut adanya market share agar mampu memenangkan persaingan. Market share/ segmentasi pasar Sekolah Menengah Kejuruan nampak pada bidang keahlian yang dipilih, seperti Bidang Keahlian Otomotif, Boga dan Busana, serta Bisnis dan Manajemen.

 

Fenomena di masyarakat dapat dibilang mengalami pergeseran/ salah kaprah sehingga para orang tua yang menghendaki anaknya untuk melanjutkan sekolah pada level pendidikan tinggi, cenderung mengarahkan anak untuk memilih Sekolah Menengah Umum, padahal seharusnya pemilihan jenjang pendidikan lebih dititik beratkan pada hobby, minat, skill, serta bakat anak, dan juga mutu sekolah. Lulusan/ output pendidikan SMK memang dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja karena lulusan SMK lebih memiliki kemampuan praktis apabila dibandingkan dengan lulusan SMU. Berkait dengan kesempatan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi, baik lulusan SMU maupun SMK keduanya memiliki kesempatan yang sama.

 

Pemahaman bidang diklat di Sekolah Menengah Kejuruan lebih mendalam dengan didukung oleh para pengajar dari latar belakang pendidikan strata satu. Ini adalah potensi yang terkandung pada sebuah sekolah menengah kejuruan. Selain itu, lulusan SMK juga dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Realita yang muncul yaitu bahwa para lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) menjadikan SMK sebagai alternatif kedua untuk mereka melanjutkan studi. Mengapa dengan potensi yang sedemikian bagus dapat memunculkan realita yang kurang bagus. Masalah gengsi dan prestice sepertinya punya andil dalam hal ini. Gengsi dan prestice terbangun atas beberapa faktor. Pertama, mata pelajaran IPA lebih favorite dibandingkan dengan mata pelajaran IPS dan mata pelajaran IPA hanya ada di SMU. Kedua, kelas sosial-ekonomi siswa SMU lebih tinggi secara rata-rata dibandingkan dengan siswa SMK. Ketiga, riset dan penelitian di SMU lebih berkembang dan hidup sehingga kualitas siswa secara khusus dapat meningkat dan nama sekolah secara umum dapat terangkat. Keempat, berkaitan dengan bias gender, yaitu terjadi homogenitas dimana suatu SMK terdiri atas banyak siswa perempuan saja dan SMK dengan bidang keahlian tertentu hanya terdiri atas siswa laki-laki.

 

Gengsi dan prestice ternyata lebih berperan dibandingkan dengan potensi dalam hal mewujudkan realita. Inovasi pada dunia pendidikan seperti misalnya Sekolah Menengah Kejuruan dengan Bidang Keahlian Komputer, Informatika, Matematika, dan sebagainya, mungkin akan mewujudkan realita yang jauh lebih baik bagi Sekolah Menengah Kejuruan. Artikel ini adalah sebuah wacana publik yang diharapkan dapat membangun pola pikir baru bagi semua pihak.

 

*) Artikel ini telah diterbitkan di Buletin Tekkomdik, Media Teknologi Komunikasi dan  Informasi Pendidikan, edisi 3 Juni 2009 : 18.

 

Dalam format PDF, klik disini SEKOLAH_MENENGAH_KEJURUAN

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s